Minggu, 08 Maret 2015

MENCINTAI SHOLAT MALAM

"SEPENGGAL KISAH KELUARGA KECILKU" Aku terlahir dari keluarga tak mampu v walaupun tk mampu v aku mampu mengenyam pendidikan walaupun hanya sebatas SMA dan dengan ijasah SMA ini juga aku bisa bekerja di perusahaan yang bergerak dibidang kimia yang berada dilokasi padalarang bandung aku masuk perusahaa itu sekitar thn 2006 dan keluar pd thn 2011 dengan alasan ingin cari suasana dan usaha baru setelah itu aku pergi kejambi lalu bekerja disana selagi kerja ada kawan yg nawarin kerja di padang diperkbunan teh selama 2 tahun dan akhirnya aku pulang ke bandung dan sekarang dibandung hese euy neangan gawe hayang gawe dipabrik teditarima da uragna buta warna erek jadi supir simna can aya aku mngeluh dengan hidup ini urg ampir ampiran putus asa untungna aya pamjikan anu sentiasa menemani alhamdulilah boga pamajikan solehah bisa narima kaayaan urang rek suka maupun duka eweh deui nu bisa ngubaran hate kuring akibat kasilitan nu ker dirandapan salian ti pamajikan jg budak MY PAANET HARAPAN saya kaharepna mudah mudahan boga gawe nu alus kaharti gawena duitna pokonamah barokah supaya kuring bisa ngabahagiaken anak jg pamajikan tercinta behdituna hayang ngabahagiaken keluarga uing jg pamajikan amiiiiiii ges hela ah cape mana lapar ker puasa........ bbyyyyyy

MENGINGAT KEMATIAN

Mengingat Kematian, Ringankan Kesulitan Hidup Cukuplah kematian sebagai pelembut hati, pengucur air mata, pemisah dengan keluarga dan sahabat, pemutus angan-angan” Mengingat kematian, mendampingi orang yang menghadapi sakratul maut, mengantar jenazah, mengingat gelap dan beratnya siksa kuburan niscaya akan membangunkan jiwa kita dari tidurnya, menyadari kelalaiannya, membangkitkan semangatnya, menggelorakan nilai perjuangannya dan mengembalikannya segera kepada Allah. Allah berfirman: “setiap jiwa pasti akan merasakan kematian” AL Hasan berkata: “kematian telah menelanjangi dunia sehingga tidak menyisakan kegembiraan bagi orang yang berakal” Orang yang banyak mengingat kematian akan ringan baginya semua kesulitan hidup. Orang yang banyak mengingat kematian akan dimuliakan dengan tiga hal: segera bertaubat, ketenangan hati dan semangat ibadah. Suatu hari Ibnu Muthi’ melihat rumahnya, dia terkesima dengan keindahannya lalu dia menangis seraya berkata: “kalau tidak karena kematian niscaya aku akan gembira denganmu”. Ibnu Munkadir berkata tentang seseorang yang sering ziarah kubur: “Orang ini menggerakkan hatinya dengan mengingat kematian” Oleh karenanya Rasulullah selalu mengajak para sahabat untuk memperbanyak mengingat kematian, dengan mengingat mati akan melapangkan dada, menambah ketinggian frekwensi ibadah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian, karena sesungguhnya tidaklah seseorang mengingatnya ketika dalam keadaan kesempitan hidup, melainkan dia akan melapangkannya, dan tidaklah seseorang mengingatnya ketika dalam keadaan lapang, melainkan dia akan menyempitkannya.” (HR. Ibnu HIbban dan dishahihkan oleh Al Bani di dalam kitab Shahih Al Jami’) Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah berkata, “Aku pernah menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai orang ke-sepuluh yang datang, lalu salah seorang dari kaum Anshor berdiri seraya berkata, “Wahai Nabi Allah, siapakah manusia yang paling cerdik dan paling tegas?” Beliau menjawab, “(adalah) Mereka yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya. Mereka itulah manusia-manusia cerdas; mereka pergi (mati) dengan harga diri dunia dan kemuliaan akhirat.” (HR. Ath-Thabrani, dishahihkan al-Mundziri)
Simaklah Kisah Kisah Kematian, Agar Dapat Menyentuh Hati-Mu Share on facebookShare on twitterShare on googleShare on favoritesMore Sharing Services 199 Redaksi – Jumat, 20 Desember 2013 07:43 WIB BERITA TERKAIT Bakhil dan Kikir adalah Salah Satu Penyebab Kesulitan Hidup Hidup di Dunia yang Singkat Taubat dan Istighfar Untuk Dosa 200 Kali Berzina !!! Rezeki Itu Datang Lebih Cepat Bergerak Daripada Ajalnya Munafik, Manusia Penuh Rekayasa kematianSyaikh Ali Ath-Thantawi dalam sebuah siaran radio dan Tv-nya mengambarkan bahwa di Syam ada seorang laki-laki yang memiliki sebuah mobil truck Lorie. Ketika mobil itu dijalankan, tanpa diketahui diatas badan mobil itu ada orang. Mobil itu mengangkut peti yang sudah siap untuk menguburkan mayat. Sedangkan di dalam peti itu terdapat kain yang bisa digunakan sewaktu-waktu dibutuhkan. Tiba-tiba hujan turun dan air mengalir deras. Orang itu pun bangun dan masuk ke dalam peti, dan membungkus dirinya dengan kain yang ada di dalam peti. Kemudian di tengah jalan ada seorang yang lain naik untuk menumpang ke bak mobil itu di samping keranda. Dia tidak tahu bahwa di dalam peti itu ada orang. Hujan belum berhenti. Orang yang kedua ini mengira bahwa dirinya hanya sendirian di dalam mobil bak itu. Tiba-tiba dari dalam peti ada tangan terjulur (untuk memastikan apakah hujan sudah berhenti atau belum). Ketika tangan itu terjulur, kain yang membungkusnya juga ikut terjulur keluar. Si penumpang itu kaget dan takut bukan kepalang. Dia mengira bahwa mayat yang ada di dalam peti itu hidup kembali. Karena takutnya, dia terjungkal dari mobil dengan posisi kepala di bawah. Dan, mati. Demikianlah Allah menentukan kematian orang itu bahkan dengan cara yang bisa terdengar lucu seperti ini. Yang selalu harus diingat oleh seorang hamba adalah bahwa dia sedang membawa dirinya bersama kematian, bahwa dia sedang berjalan menuju kematian, dan bahwa dia sedang menunggu kematian itu entah datang pagi atau sore. Sungguh indah ungkapan Ali bin Abi Thalib, “Sesungguhnya kematian terus mendekati kita, dan dunia terus meninggalkan kita. Maka jadilah kalian anak-anak akhirat dan janganlah kalian menjadi anak-anak dunia. Sesungguhnya hari ini adalah beramal dan tidak ada hisab, dan esok adalah hisab dan tidak ada lagi beramal.” Ungkapan Ali ini mengingatakan kita bahwa manusia itu harus selalu siap siaga, selalu memperbaiki keadaannya, memperbaharui taubatnya, dan harus mengetahui bahwa dia sedang berhubungan dengan Rabb Yang Maha Mulia, Kuat, Agung, dan Baik. Kematian itu tidak pernah meminta izin kepada siapa saja, dan tidak pernah merajuk. Kematian itu tidak pernah memberikan aba-aba terlebih dahulu. Dan, tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati (Qs.Luqman:34) 31:34 “….yang tiada dapat kamu minta mundur daripadanya barang sesaat pun dan tidak (pula) kamu dapat meminta supaya diajukan. Masih dari siaran itu Syeikh Ath-Thantawi bercerita, dikatakan bahwa sebuah bus penuh sesak dengan penumpang. Sopirnya selalu menoleh ke kiri dan kanan, dan secara tiba-tiba sopir itu menghentikan bus itu. Para penumpang pun bertanya, “Mengapa engkau menghentikan bus ini?” Sopir itu menjawab, “Saya berhenti untuk menghampiri orang tua yang melabai-lambaikan tangannya hendak turut menumpang bersama kita.” Para penumpang jadi bertanya-tanya, “Kami tidak melihat siapa-siapa.” Tapi sopir itu melihatnya, “Lihat (itu) dia,” Mereka tetap bingung. “Kami tidak melihat seorang pun.” Sopir itu pun berkata, “Kini dia datang untuk naik bersama kita.” Semua penumpang berkata, “Demi Allah, kami tidak melihat siapa-siapa.” Dan secara tiba-tiba pula sopir itu mati terduduk di atas kursinya. Kematian sangat tiba-tiba, dan begitulah jalan kematiannya. 7:34 {Maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun tidak (pula) memajukannya} (QS Al-A’raf: 34) Manusia itu sangat pengecut terhadap hal-hal yang menakutkan, dan merasa hatinya hampir copot ketika mendengar kematian disebutkan, namun tanpa disangka-disangka kematian itu datang membunuhnya. 3:168 Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi: “Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh.” Katakanlah, “Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar.” (QS. Ali-Imran: 168) Tapi yang paling mengherankan adalah kita tidak pernah berpikir bahwa kita akan bertemu Allah, bahwa dunia itu hina sekali, dan bahwa dunia itu banyak cerita tentang bagaimana orang meninggal dunia. Dan kita tak pernah sadar kecuali kita didera banyak ketakutan, sehingga pikiran seperti itu baru muncul. - Aidh Al Qarni-